Terakhir diperbarui: 27 Juli 2026
Apa itu HPP?
HPP (Harga Pokok Produksi) adalah total biaya yang kamu keluarkan untuk membuat satu porsi produk siap jual. HPP menjawab pertanyaan paling penting bagi pemilik usaha kuliner: “Berapa modal saya per porsi?” Tanpa tahu HPP, kamu tak bisa menetapkan harga jual yang sehat — bisa jadi jualan ramai tapi tetap rugi.
Komponen HPP
HPP makanan & minuman umumnya terdiri dari tiga komponen:
- Biaya bahan baku — semua bahan dalam resep (kopi, susu, gula, kemasan, dll).
- Biaya tenaga kerja langsung — upah untuk waktu yang dipakai memproduksi porsi tersebut.
- Overhead produksi — gas, listrik, air, penyusutan alat yang terpakai saat produksi.
Catatan: biaya tetap seperti sewa tempat dan gaji bulanan rutin biasanya tidakdimasukkan ke HPP per porsi, melainkan dihitung terpisah untuk analisis BEP (balik modal).
Rumus HPP
Bila ada bahan yang menyusut atau terbuang, sesuaikan dengan persentase waste:
Langkah menghitung HPP
- Tulis resep lengkap satu batch beserta takaran tiap bahan.
- Isi harga beli tiap bahan, lalu hitung biaya per takaran yang dipakai.
- Jumlahkan biaya bahan untuk satu batch.
- Bagi dengan jumlah porsi (yield) yang dihasilkan batch itu.
- Tambahkan alokasi tenaga kerja dan overhead per porsi.
- Sesuaikan dengan persentase susut/waste bila ada.
Contoh: es kopi susu
Misalkan satu batch menghasilkan 10 gelas es kopi susu dengan rincian bahan:
- Kopi & susu & gula aren: Rp 45.000
- Es & air: Rp 5.000
- Gelas plastik + tutup + sedotan (10 pcs): Rp 20.000
Total biaya bahan satu batch = Rp 70.000 untuk 10 gelas.
Tambahkan tenaga kerja + overhead, misal Rp 1.500/gelas → HPP ≈ Rp 8.500/gelas. Kalau kamu jual Rp 18.000, margin kotornya sekitar 53%. Angka inilah dasar untuk menghitung margin dan menetapkan harga jual di tiap channel.
Kesalahan umum saat menghitung HPP
- Lupa memasukkan biaya kemasan (gelas, sedotan, paper bag) — padahal sering signifikan.
- Tidak memperhitungkan susut/waste bahan segar yang cepat rusak.
- Memakai harga bahan lama, padahal harga sudah naik.
- Mencampur biaya tetap (sewa, gaji rutin) ke HPP per porsi sehingga harga jadi terlalu mahal.
Tanya jawab seputar HPP
- Apa bedanya HPP dengan harga jual?
- HPP adalah biaya untuk membuat satu porsi produk. Harga jual adalah HPP ditambah margin keuntungan yang kamu inginkan. Jadi harga jual selalu lebih tinggi dari HPP.
- Apakah gaji saya sebagai pemilik masuk HPP?
- Kalau kamu ikut memproduksi, alokasikan biaya tenaga kerja per porsi ke HPP. Namun biaya tetap seperti sewa dan gaji rutin lebih tepat dihitung terpisah sebagai biaya operasional (untuk BEP), bukan ke HPP per porsi.
- Seberapa sering HPP perlu dihitung ulang?
- Setiap kali harga bahan baku berubah signifikan. Harga bahan pokok di Indonesia sering naik-turun, jadi idealnya cek HPP minimal sebulan sekali atau saat ada kenaikan harga bahan utama.
- Bagaimana menghitung HPP kalau ada bahan yang terbuang (waste)?
- Masukkan persentase susut/waste ke perhitungan. Misal dari 1 kg bahan hanya 90% yang terpakai, maka biaya bahan efektif dibagi 0,9 agar HPP mencerminkan biaya sebenarnya.
- Apa bedanya HPP dengan food cost?
- HPP adalah biaya membuat satu porsi dalam rupiah. Food cost adalah rasio biaya bahan terhadap harga jual (persen) — mis. HPP Rp 8.500 dari harga Rp 18.000 → food cost ± 47%. HPP dipakai menetapkan harga; food cost dipakai memantau efisiensi bahan dari waktu ke waktu.